Sabtu, 16 Februari 2019

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Semalam saya kirimkan surat cinta untuk ayah, isinya sederhana, lebih ke ucapan terimakasih karena sudah menjadi suami, ayah, sahabat dan teman terbaik. Kalau diingat-ingat bagaimana saya berkenalan dan kemudian akhirnya memutuskan untuk menjadikannya imam dan calon ayah anak-anak saya kelak, saya tersipu. Allah pasti telah memilihkan dia untuk menjadi pendamping hidup untuk  sama-sama membangun rumah tangga.

Reaksi pertama ketika beliau menerima surat saya adalah terharu, dan kemudian beliau mengucapkan terimakasih. Dan langsung teringat bagaimana pertamakali kami dipertemukan.


Saat pertama mengenalnya kebetulan saya masih menjalin hubungan dengan orang lain. Sore itu diawal tahun 2000an,  hanya sekilas melihatnya berjalan dilorong kampus, sedangkan saya bersama teman-teman sedang menunggu di depan kelas . Langkahnya yang ringan, senyumnya yang hangat dan matanya yang mencerminkan kecerdasan, membuat saya  seketika ingin mengenalnya lebih jauh.

Setelah mencari tahu ternyata kami berbeda angkatan dan program jurusan kuliah. Pupus sudah harapan bisa mengenalnya. Namun entah bagaimana kami kemudian dipertemukan dalam wadah pekerjaan dilingkungan kampus. Kami sama-sama terpilih menjadi asisten labolatorium komputer. Dilanjutkan perkenalan tak sengaja saat briefing, karena saat absen ternyata beliau memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama dengan saya. Super kaget, bisa menemukan orang yang sama tanggal dan bulan lahirnya dari sekian ratus orang. Semakin hari semakin banyak kesamaan antara kami berdua. Seakan semesta merestui, kamipun akhirnya sepakat menjalin hubungan, setelah urusan saya dengan sang mantan usai. Saat itu kami memang ingin menjalin hubungan serius sambil perlahan belajar memahami satu sama lain.

Selama proses penjajakan,  saya merasakan beliau adalah sosok yang dekat dengan Allah, rajin sholat dan puas sunnah, penyayang, baik hati, ramah, hormat kepada orang tua serta sayang sekali terhadap Ibundanya. Anak rantau yang jauh dari keluarga namun sangat perhatian kepada keluarga dan bertanggung jawab atas kuliah yang dijalaninya. Ketika beliau saya kenalkan dengan orangtua saya, sikapnyapun sangat santun dan hormat. Sampai-sampai mama yang terkenal sangat selektif dengan kriteria "teman dekat" buat saya, dibuatnya jatuh hati.  Akhirnya saya semakin yakin untuk menjadikannya imam dan calon ayah anak-anak saya kelak. Alhamdulillah restu dari kedua orang tua pun dengan mudah kami dapat.

Tahun 2005, kami memutuskan menikah , tak terasa tahun ini genap 14 tahun kami bersama. Sekarang kami sudah mempunyai 2 putri yang cantik. Yang pertama berumur 13 tahun, yang kedua berumur 8 tahun.  Kami berdua memang kembali tinggal dengan orang tua saya, semenjak Papa menjalani operasi, namun mama dan (alm) papa saat itu menyerahkan sepenuhnya mengenai pola pengasuhan untuk anak-anak kepada kami berdua. Saya dan suami sepakat untuk tidak mengekang anak-anak dalam proses belajar, memilih hobby, dan hal lainnya, tapi kami menerapkan sistem kompromi dan diskusi.

Kami sekeluarga adalah type rumahan dan lebih senang menghabiskan waktu bersama keluarga. Hanya jika weekend tiba, kami meluangkan mencari taman bermain atau tempat wisata outdoor. Disinilah kemudian kami menemukan potensi putri yang pertama, yaitu memanah. Awalnya hanya berupa keisengan mencoba, sampai kemudian menjadi hobby yang membuahkan prestasi. Bahkan untuk mendukung potensi ini, suami turut ikut masuk klub dan kemudian menjadi partner turnament bersama. Sejak kecil Kaka adalah tipe anak yang fokus , pendiam dan  bertanggung jawab. Hal yang berkaitan dengan kewajiban, dia akan sangat bertanggung jawab menyelesaikannya secara maksimal dan detail. Berbeda dengan putri kami yang kedua, yang super lincah, moody namun kurang nyaman jika berada dikeramaian. Setelah kami amati Adek  sangat peka pendengaran dan hapalannya, obrolan yang biasa sekilas kami lakukan, biasa akan dengan mudah diingat olehnya. Akhirnya kami mulai banyak memperdengarkan bacaan, surah-surah ayat suci, dan memasukannya ke sekolah yang bisa menunjang potensinya.

Kami sadar kami adalah pasangan yang saling melengkapi sejak awal. Suami saya pembawaannya tenang, super cool, sabar dan spontan. Tapi saya adalah type orang yang pembawaanya ramai , hangat, ingin serba cepat, serta terstrukur . Putri-putri kami memiliki sifat dan pembawaan kombinasi dari kami berdua. Selama 14 tahun ini kami bersama, tentu saja tidak semua berjalan dengan mulus, pasti ada hambatan dan kerikil yang menghadang jalan kami. Namun dengan sifat kami yang saling melengkapi ini, akhirnya semua bisa terlewati. Suami yang kadang kikuk jika ada dilingkungan baru dan ramai, akan cepat beradaptasi jika ada saya yang cenderung lebih cepat akrab dan mencairkan suasana. Saya yang cenderung panik, akan lebih cepat tenang jika ada suami yang mendampingi dan memberikan kepercayaan. Suami yang sering bertindak spontan tanpa persiapan, tapi tak pernah khawatir karena ada saya yang mengatur semua dan dapat diandalkan. Bagi suami dan anak-anak, saya dianggap sosok yang tegas dan sigap dalam menyiapkan segala kebutuhan mereka. Sehingga mereka bisa tenang menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.

Ketika memutuskan kembali tinggal bersama orang tua, ada banyak sekali pertimbangan yang mendasarinya. Pertama, karena saya adalah anak paling tua yang diharapkan oleh orang tua bisa mendampingi dan menemani mereka, kebetulan saat itu Papa  dalam keadaan sakit. Kedua, karena lingkungan tempat kami tinggal adalah lingkungan masa kecil saya, dimana hampir semua penghuninya seusia orang tua saya yang membutuhkan inovasi-inovasi dan masukan-masukan informasi dari kami yang masih produktif. Alhamdulillah jika sedikit bisa bermanfaat bagi lingkungan.

Saya tak pernah tahu masa depan yang Allah rancang untuk saya, namun yang saya pahami, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai istri, ibu dan anak akan sepenuh hati dan segenap jiwa saya lakukan dengan penuh tanggung jawab.

NHW#3
@Diah_arini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar