Minggu, 10 Februari 2019

Ceklis Indikator Profesionalisme Perempuan

Ketika NHW#2 ini diberikan, saya masih dalam suasana duka. Ayahanda tercinta yang sedang dalam keadaan sehat wal'afiat ternyata harus dipanggil Illahi secara tiba-tiba. Sungguh saya merasa langit seakan runtuh menimpa saya, karena kehilangan sosok ayah , panutan, guru, role model dan orang yang senantiasa saya mintakan nasehat harus pergi untuk selamanya. Materi yang diberikan di WA grup sama sekali tak terbaca karena saya harus fokus kepada mama, suami, anak-anak serta keluarga besar.

Tapi kemudian saya tersadar, saya tak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan, dan melupakan tekad saya untuk belajar menjadi Ibu Profesional yang saya mimpikan. Bismillah, malam ini saya mulai membuka materi, dan  membacanya.

Disini saya ingin menuliskan kembali makna Ibu Profesional, adalah seorang perempuan yang

  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.
Tahapan untuk menjadi Ibu Profesional pun masih panjang, namun indikator keberhasilan Ibu Profesional  adalah " Menjadi Kebanggaan Keluarga" karena Customer utama kita adalah suami dan anak-anak.

NHW#2 kami diminta untuk membuat Ceklis Indikator Profesionalisme Perempuan,
  1. Sebagai Individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai Ibu
Indikator itu kita buat dan  kita sendiri bisa menjalankannya, dan mengacu pada kunci indikator yang disingkat menjadi SMART yaitu Spesifik, Measurable, Achievable, Realistic, Timebond. Dalam membuat ceklis indikator ini kami harus bertanya kepada suami, indikator istri semacam apa yang sebenarnya yang bisa membuatnya bahagia, dan bertanya kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa yang sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.

Saya coba mengurai satu persatu,
1. Sebagai Individu
Saya ingin lebih konsisten sholat diawal waktu, lebih rajin lagi puasa sunnah, menjaga pola makan dan tidur, serta belajar lebih sabar.
Saat ini kadang, saya masih melalaikan sholat diawal waktu dengan alasan tanggung, karena masih banyak pekerjaan, merasa sudah menunaikan puasa wajib, puasa sunnah jarang dilakukan lagi. Kepergian ayahanda kemarin, menjadi cambuk dan tonggak keinginan saya untuk menjadi pribadi yang lebih taat beribadah. Karena kesibukan juga kadang saya melalaikan makan dan istirahat, namun saya bertekad untuk menjaga kesehatan, karena bagaimana kita bisa maksimal melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang Ibu jika kondisi kesehatan tidak terjaga. Belajar lebih sabar, saat lelah melanda terkadang emosi lekas tersulut, dan adakalanya anak-anak yang menjadi korban. InsyaAllah lebih banyak belajar bersabar, dengan banyak-banyak beristigfar.
2. Sebagai Istri
Mulai lagi memasak bekal untuk suami dan anak-anak. Karena setelah ayahanda meninggal, otomatis saya menghentikan kegiatan memasak diwaktu sebelum subuh. Hal ini saya lakukan dikarenakan rasa trauma dan sedih, karena saat itu saya menemukan ayahanda terjatuh dan sudah pingsan dan kemudian meninggal dunia diwaktu tersebut. Sudah lebih dari seminggu saya menghentikan kegiatan memasak ini, dan insyaAllah minggu ini akan perlahan memulai kegiatan memasak lagi, setidaknya 3 kali seminggu dalam 2 bulan ini. Menjadi istri yang lebih banyak meluangkan waktu menemani kegiatan suami jika ada  kegiatan yang melibatkan istri dikantornya, minimal 3 kali dalam 1 tahun. Sudah ada dirumah lebih dahulu saat suami pulang kerja, minimal 2 kali dalam 1 minggu. Lebih intents berkomunikasi dan  berdiskusi menjelang tidur mengenai anak-anak dan keluarga, setidaknya 3 kali dalam seminggu.  Tidak terlalu lelah bekerja, lebih konsen untuk menjaga kesehatan.
3. Sebagai Ibu
Membuatkan kembali bekal sekolah, sedih ketika anak yang paling besar bercerita kangen dibawakan makan siang buatan Bunda yang sebelumya selalu dia bawa. Mulai besok minimal akan mulai membuatkan bekal lagi minimal 3 kali dalam seminggu selama 3 bulan ini. Konsisten mengantar ke sekolah anak paling kecil (jika harus meeting pagi, tidak bisa mengantar ke sekolah, namun mulai bertekad manajemen waktu lebih ketat lagi), setidaknya 4 kali dalam seminggu selama 3 bulan ini. Tiap hari menemani anak-anak belajar, dan mengaji, dicoba minimal 3 kali seminggu selama 3 bulan ini. Menemani anak paling besar turnamen memanah (Bunda sering berhalangan, karena selalu pas tugas keluar kota), minimal 1 bulan selama 3 bulan ini . Senantiasa ada dimoment-moment spesial mereka. Mengurangi penggunaan gadget jika sedang bersama mereka, selama 3 bulan ini.

Mungkin terlihat simpel bagi orang lain ya..tapi buat saya InsyaAllah menjadi ceklis indikator profesionalisme saya sebagai Ibu yang ingin suami dan anak-anak bahagia. 

NHW#2
Dyah Arini









Tidak ada komentar:

Posting Komentar