Senin, 25 Februari 2019

MIMPI PERTAMAKU BERTEMU ALM PAPA


24 Februari 2019 , tepat hari ke 25 kepergian alm Papa, aku untuk pertama kalinya memimpikannya.
Disaat mama, anakku Raisa dan mbak yang bekerja dirumah sudah bertemu papa lewat mimpi diawal minggu kepergian Papa, aku harus bersabar menahan rindu karena belum juga Papa menyapaku lewat mimpi.

Sore itu, aku tak sengaja tertidur di sofa menanti hujan reda. Dalam tidurku aku bermimpi, Papa datang dan memanggil aku, dengan suara khasnya " Rin, lagi apa ? "
Papa terlihat gagah, dan muda , menggunakan baju koko putih, wajahnya berseri sama seperti mendampingi aku saat wisuda sarjana S1. Papa kemudian berbicara dan berpesan agar aku selalu menjaga keharmonisan bersama adik-adik, tidak lupa bersedekah setiap Jumat dan Minggu dan yang terakhir menjaga mama, anak-anak dan kucing peliharaan kami. Semua sangat jelas terbayang dan terdengar ditelinga kananku. Seakan papa memang masih ada dan masih bersama kami.

Kemudian aku terbangun, dan menangis sejadi-jadinya...Ya Allah...terimakasih.. Papa bersamaMu bahagia, Papa bersamaMu  terlihat sehat dan muda. 
Terimakasih sudah hadir dan mengobati rindu ini. InsyaAllah amanat dan pesanmu akan selalu kami jalankan.

Tiap yang beriman pasti tidak akan memaknai mimpi bertemu keluarga yang sudah meninggal dengan hal-hal yang mistis. Allah sedang memberi kasih sayangnya dengan memberi aku mimpi tentang Alm, karena aku sangat merindukannya, Allah sedang memberikan kasih sayangnya bahwa aku harus semakin ikhlas dan bangkit kembali. 

Papa.....terimakasih sudah mencairkan rindu ini..


Depok, 25 Februari 2019

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Jleb banget pas baca tugas NHW#4 dari Institut Ibu Profesional ini, makin terasa menguras dan mengiris hati. Sampai detik ini saya sebagai Bunda sudah belum ya paham fitrah anak-anak saya? Saya sudah melihat potensi mereka dan mengasahnya dengan baik dan benarkah? saya sudah terlalu ambisius kah? duhh... langsung nangis tersedu-sedu.

Setiap Bunda pasti ingin anak-anak mereka lahir dan tumbuh serta memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita orangtuanya. Segala daya upaya pasti akan kita lakukan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Istilahnya jangan sampai deh anak-anak ngalamin kehidupan susah kayak kita dulu. Yang dulu ga bisa kebeli oleh kita, diusahakan ga terjadi sama anak-anak. Makanan yang dulu kita ga pernah rasakan, atau cuma bisa nyicip, jangan sampai deh anak-anak kita ga pernah makan, mungkin ini ya contoh simpelnya. Banyak dari kita berlomba-lomba mencarikan sekolah dan tempat les terbaik untuk anak-anak, dan banyak usaha lainnya agar mereka bisa cemerlang. Tapi mungkin itu hanya ambisi kita sebagai orangtua, tanpa memahami fitrah anak-anak kita.
Belum terlambat untuk saya memulai kembali, dan menentukan titik nol km saya mendampingi dan membimbing mereka. Bismillah, semoga Allah meridhoi....

Setiap anak dilahirkan dengan membawa keistimewaan, yang pasti berbeda dengan anak lainnya. Saya sedang berusaha memahami ini. Ketika kedua putri saya lahir dengan kelebihannya masing-masing, saya berusaha tidak membandingkan. Ketika sang kaka dengan segala kelebihan dan kediniannya mandiri, saya dengan penuh syukur menerima bahwa adik akan selalu menjadi little angel yang menceriakan hari-hari kami.

Sekarang InsyaAllah akan lebih fokus untuk ada dan memanfaatkan waktu sebanyak mungkin bersama anak-anak dan bersama-sama menemukan apa yang menjadi potensi mereka, dan membimbing mereka untuk tampil cemerlang dengan versinya masing-masing.




Sabtu, 16 Februari 2019

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Semalam saya kirimkan surat cinta untuk ayah, isinya sederhana, lebih ke ucapan terimakasih karena sudah menjadi suami, ayah, sahabat dan teman terbaik. Kalau diingat-ingat bagaimana saya berkenalan dan kemudian akhirnya memutuskan untuk menjadikannya imam dan calon ayah anak-anak saya kelak, saya tersipu. Allah pasti telah memilihkan dia untuk menjadi pendamping hidup untuk  sama-sama membangun rumah tangga.

Reaksi pertama ketika beliau menerima surat saya adalah terharu, dan kemudian beliau mengucapkan terimakasih. Dan langsung teringat bagaimana pertamakali kami dipertemukan.


Saat pertama mengenalnya kebetulan saya masih menjalin hubungan dengan orang lain. Sore itu diawal tahun 2000an,  hanya sekilas melihatnya berjalan dilorong kampus, sedangkan saya bersama teman-teman sedang menunggu di depan kelas . Langkahnya yang ringan, senyumnya yang hangat dan matanya yang mencerminkan kecerdasan, membuat saya  seketika ingin mengenalnya lebih jauh.

Setelah mencari tahu ternyata kami berbeda angkatan dan program jurusan kuliah. Pupus sudah harapan bisa mengenalnya. Namun entah bagaimana kami kemudian dipertemukan dalam wadah pekerjaan dilingkungan kampus. Kami sama-sama terpilih menjadi asisten labolatorium komputer. Dilanjutkan perkenalan tak sengaja saat briefing, karena saat absen ternyata beliau memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama dengan saya. Super kaget, bisa menemukan orang yang sama tanggal dan bulan lahirnya dari sekian ratus orang. Semakin hari semakin banyak kesamaan antara kami berdua. Seakan semesta merestui, kamipun akhirnya sepakat menjalin hubungan, setelah urusan saya dengan sang mantan usai. Saat itu kami memang ingin menjalin hubungan serius sambil perlahan belajar memahami satu sama lain.

Selama proses penjajakan,  saya merasakan beliau adalah sosok yang dekat dengan Allah, rajin sholat dan puas sunnah, penyayang, baik hati, ramah, hormat kepada orang tua serta sayang sekali terhadap Ibundanya. Anak rantau yang jauh dari keluarga namun sangat perhatian kepada keluarga dan bertanggung jawab atas kuliah yang dijalaninya. Ketika beliau saya kenalkan dengan orangtua saya, sikapnyapun sangat santun dan hormat. Sampai-sampai mama yang terkenal sangat selektif dengan kriteria "teman dekat" buat saya, dibuatnya jatuh hati.  Akhirnya saya semakin yakin untuk menjadikannya imam dan calon ayah anak-anak saya kelak. Alhamdulillah restu dari kedua orang tua pun dengan mudah kami dapat.

Tahun 2005, kami memutuskan menikah , tak terasa tahun ini genap 14 tahun kami bersama. Sekarang kami sudah mempunyai 2 putri yang cantik. Yang pertama berumur 13 tahun, yang kedua berumur 8 tahun.  Kami berdua memang kembali tinggal dengan orang tua saya, semenjak Papa menjalani operasi, namun mama dan (alm) papa saat itu menyerahkan sepenuhnya mengenai pola pengasuhan untuk anak-anak kepada kami berdua. Saya dan suami sepakat untuk tidak mengekang anak-anak dalam proses belajar, memilih hobby, dan hal lainnya, tapi kami menerapkan sistem kompromi dan diskusi.

Kami sekeluarga adalah type rumahan dan lebih senang menghabiskan waktu bersama keluarga. Hanya jika weekend tiba, kami meluangkan mencari taman bermain atau tempat wisata outdoor. Disinilah kemudian kami menemukan potensi putri yang pertama, yaitu memanah. Awalnya hanya berupa keisengan mencoba, sampai kemudian menjadi hobby yang membuahkan prestasi. Bahkan untuk mendukung potensi ini, suami turut ikut masuk klub dan kemudian menjadi partner turnament bersama. Sejak kecil Kaka adalah tipe anak yang fokus , pendiam dan  bertanggung jawab. Hal yang berkaitan dengan kewajiban, dia akan sangat bertanggung jawab menyelesaikannya secara maksimal dan detail. Berbeda dengan putri kami yang kedua, yang super lincah, moody namun kurang nyaman jika berada dikeramaian. Setelah kami amati Adek  sangat peka pendengaran dan hapalannya, obrolan yang biasa sekilas kami lakukan, biasa akan dengan mudah diingat olehnya. Akhirnya kami mulai banyak memperdengarkan bacaan, surah-surah ayat suci, dan memasukannya ke sekolah yang bisa menunjang potensinya.

Kami sadar kami adalah pasangan yang saling melengkapi sejak awal. Suami saya pembawaannya tenang, super cool, sabar dan spontan. Tapi saya adalah type orang yang pembawaanya ramai , hangat, ingin serba cepat, serta terstrukur . Putri-putri kami memiliki sifat dan pembawaan kombinasi dari kami berdua. Selama 14 tahun ini kami bersama, tentu saja tidak semua berjalan dengan mulus, pasti ada hambatan dan kerikil yang menghadang jalan kami. Namun dengan sifat kami yang saling melengkapi ini, akhirnya semua bisa terlewati. Suami yang kadang kikuk jika ada dilingkungan baru dan ramai, akan cepat beradaptasi jika ada saya yang cenderung lebih cepat akrab dan mencairkan suasana. Saya yang cenderung panik, akan lebih cepat tenang jika ada suami yang mendampingi dan memberikan kepercayaan. Suami yang sering bertindak spontan tanpa persiapan, tapi tak pernah khawatir karena ada saya yang mengatur semua dan dapat diandalkan. Bagi suami dan anak-anak, saya dianggap sosok yang tegas dan sigap dalam menyiapkan segala kebutuhan mereka. Sehingga mereka bisa tenang menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.

Ketika memutuskan kembali tinggal bersama orang tua, ada banyak sekali pertimbangan yang mendasarinya. Pertama, karena saya adalah anak paling tua yang diharapkan oleh orang tua bisa mendampingi dan menemani mereka, kebetulan saat itu Papa  dalam keadaan sakit. Kedua, karena lingkungan tempat kami tinggal adalah lingkungan masa kecil saya, dimana hampir semua penghuninya seusia orang tua saya yang membutuhkan inovasi-inovasi dan masukan-masukan informasi dari kami yang masih produktif. Alhamdulillah jika sedikit bisa bermanfaat bagi lingkungan.

Saya tak pernah tahu masa depan yang Allah rancang untuk saya, namun yang saya pahami, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai istri, ibu dan anak akan sepenuh hati dan segenap jiwa saya lakukan dengan penuh tanggung jawab.

NHW#3
@Diah_arini

Minggu, 10 Februari 2019

Ceklis Indikator Profesionalisme Perempuan

Ketika NHW#2 ini diberikan, saya masih dalam suasana duka. Ayahanda tercinta yang sedang dalam keadaan sehat wal'afiat ternyata harus dipanggil Illahi secara tiba-tiba. Sungguh saya merasa langit seakan runtuh menimpa saya, karena kehilangan sosok ayah , panutan, guru, role model dan orang yang senantiasa saya mintakan nasehat harus pergi untuk selamanya. Materi yang diberikan di WA grup sama sekali tak terbaca karena saya harus fokus kepada mama, suami, anak-anak serta keluarga besar.

Tapi kemudian saya tersadar, saya tak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan, dan melupakan tekad saya untuk belajar menjadi Ibu Profesional yang saya mimpikan. Bismillah, malam ini saya mulai membuka materi, dan  membacanya.

Disini saya ingin menuliskan kembali makna Ibu Profesional, adalah seorang perempuan yang

  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.
Tahapan untuk menjadi Ibu Profesional pun masih panjang, namun indikator keberhasilan Ibu Profesional  adalah " Menjadi Kebanggaan Keluarga" karena Customer utama kita adalah suami dan anak-anak.

NHW#2 kami diminta untuk membuat Ceklis Indikator Profesionalisme Perempuan,
  1. Sebagai Individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai Ibu
Indikator itu kita buat dan  kita sendiri bisa menjalankannya, dan mengacu pada kunci indikator yang disingkat menjadi SMART yaitu Spesifik, Measurable, Achievable, Realistic, Timebond. Dalam membuat ceklis indikator ini kami harus bertanya kepada suami, indikator istri semacam apa yang sebenarnya yang bisa membuatnya bahagia, dan bertanya kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa yang sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.

Saya coba mengurai satu persatu,
1. Sebagai Individu
Saya ingin lebih konsisten sholat diawal waktu, lebih rajin lagi puasa sunnah, menjaga pola makan dan tidur, serta belajar lebih sabar.
Saat ini kadang, saya masih melalaikan sholat diawal waktu dengan alasan tanggung, karena masih banyak pekerjaan, merasa sudah menunaikan puasa wajib, puasa sunnah jarang dilakukan lagi. Kepergian ayahanda kemarin, menjadi cambuk dan tonggak keinginan saya untuk menjadi pribadi yang lebih taat beribadah. Karena kesibukan juga kadang saya melalaikan makan dan istirahat, namun saya bertekad untuk menjaga kesehatan, karena bagaimana kita bisa maksimal melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang Ibu jika kondisi kesehatan tidak terjaga. Belajar lebih sabar, saat lelah melanda terkadang emosi lekas tersulut, dan adakalanya anak-anak yang menjadi korban. InsyaAllah lebih banyak belajar bersabar, dengan banyak-banyak beristigfar.
2. Sebagai Istri
Mulai lagi memasak bekal untuk suami dan anak-anak. Karena setelah ayahanda meninggal, otomatis saya menghentikan kegiatan memasak diwaktu sebelum subuh. Hal ini saya lakukan dikarenakan rasa trauma dan sedih, karena saat itu saya menemukan ayahanda terjatuh dan sudah pingsan dan kemudian meninggal dunia diwaktu tersebut. Sudah lebih dari seminggu saya menghentikan kegiatan memasak ini, dan insyaAllah minggu ini akan perlahan memulai kegiatan memasak lagi, setidaknya 3 kali seminggu dalam 2 bulan ini. Menjadi istri yang lebih banyak meluangkan waktu menemani kegiatan suami jika ada  kegiatan yang melibatkan istri dikantornya, minimal 3 kali dalam 1 tahun. Sudah ada dirumah lebih dahulu saat suami pulang kerja, minimal 2 kali dalam 1 minggu. Lebih intents berkomunikasi dan  berdiskusi menjelang tidur mengenai anak-anak dan keluarga, setidaknya 3 kali dalam seminggu.  Tidak terlalu lelah bekerja, lebih konsen untuk menjaga kesehatan.
3. Sebagai Ibu
Membuatkan kembali bekal sekolah, sedih ketika anak yang paling besar bercerita kangen dibawakan makan siang buatan Bunda yang sebelumya selalu dia bawa. Mulai besok minimal akan mulai membuatkan bekal lagi minimal 3 kali dalam seminggu selama 3 bulan ini. Konsisten mengantar ke sekolah anak paling kecil (jika harus meeting pagi, tidak bisa mengantar ke sekolah, namun mulai bertekad manajemen waktu lebih ketat lagi), setidaknya 4 kali dalam seminggu selama 3 bulan ini. Tiap hari menemani anak-anak belajar, dan mengaji, dicoba minimal 3 kali seminggu selama 3 bulan ini. Menemani anak paling besar turnamen memanah (Bunda sering berhalangan, karena selalu pas tugas keluar kota), minimal 1 bulan selama 3 bulan ini . Senantiasa ada dimoment-moment spesial mereka. Mengurangi penggunaan gadget jika sedang bersama mereka, selama 3 bulan ini.

Mungkin terlihat simpel bagi orang lain ya..tapi buat saya InsyaAllah menjadi ceklis indikator profesionalisme saya sebagai Ibu yang ingin suami dan anak-anak bahagia. 

NHW#2
Dyah Arini









Rabu, 06 Februari 2019

Selamat Jalan Papa

Selamat Jalan Papa, Pahlawan kesayangan keluarga


Aku masih merasa ini hanya mimpi.  Sosok yang senantiasa ada,  disetiap moment bahagia dan indahku,  sosok yang selalu ada dan mensupport keterpurukan ku. Cinta pertamaku.. Pahlawan keluarga,  panutan dan sosok paling bertanggung jawab dan penyayang.

Jumat,  01 Februari 2019 pukul 03.30 wib pagi.  Mama dan aku menemukan papa terjatuh.  Ya Allah aku tak bisa menahan kekhawatiranku.  Kuletakkan kepala papa di pangkuan.  Nafas papa sudah sangat lemah,  aku tak tahu apakah jantung papa masih berdetak normal atau tidak.  Tanganku terlalu gemetar untuk merasakannya.  Kugenggam tangan Papa.. Jemari nya sudah mulai dingin.  Ku bisikkan semangat dan asma Allah di telinga Papa...
Papa... Bangun pa.. Papa kuat ya...
Allahuakbar...La Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah
Dalam pelukanku kurasakan papa pergi meninggalkan kami.

Bersama para tetangga kami menggotong Papa,  dan membawanya ke Rumah sakit.  Aku masih berharap papa bisa tertolong.. Pasti aku tadi salah.. Papa sebenarnya masih ada.
Papa langsung ditangani dokter IGD,  namun Allah berkehendak lain,  ternyata Papa memang sudah berpulang dan kembali kepada Sang Khalik.
Inna Lillahi Wa Innaa Ilaihi Rojiun...
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali".

Ya Allah... Ini pasti mimpi, aku hanya sedang bermimpi buruk,  ini tidak benar-benar terjadi. Karena semalam aku masih mengajaknya berbicara dan menyediakan makan malam. Karena suamiku masih mengobrol dengan papa jelang tengah malam. Karena papa sedang sehat dan tidak ada keluhan apa-apa.

Papa pergi dalam keadaan tidak merasakan sakit.. Beliau pingsan dan langsung pergi ke pangkuan Illahi. Pergi dengan wajah seperti sedang tertidur.
InsyaAllah Papa Husnul-khatimah.

Yaa ayyatuhan naf sul muth'mainnah irji'ii illa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah.  Fadkhulii fii'ibaadii wad khulii jannatii..

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhoiNya.  Maka masukan lah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah kedalam surgaku. " (Q.S Al FAJR 89 ayat 27-30).

Papa,  sosok paling bertanggung jawab terhadap keluarga, dia yang mengenalkan kami semua arti menyayangi sesama tak pandang jabatan dan harta,  sosok pendidik yang sangat perhatian terhadap pendidikan demi masa depan kami. Sosok bersahaja, ramah,  dan penolong.
Papa memang sudah mempersiapkan tabungan akhiratnya,  tak pernah putus sholat ke mesjid, puasa wajib dan sunnahnya.

Betapa Allah sudah menyiapkan hari baik dan jam untuk papa berpulang. Jelang sholat subuh,  ketika papa hendak menyiapkan diri melaksanakan kewajiban sholat subuh. Tak ada pesan khusus yang ditinggalkan, hanya terucap maaf kepada kami anak-anaknya sebulan lalu dan senentiasa berkata jadikan kamu bermanfaat untuk orang lain meski sedikit, dan senantiasa berbuat baik.

Papa... Terimakasih untuk segalanya,  terimakasih sudah menjadi Papa terbaik dihidupku,  mama dan saudara2ku.  Terima kasih sampai detik kepergianmu,  Papa tak ingin merepotkan kami. Biarkan kami memelukmu dalam doa dan sholat ketika rindu ini datang menyergap.

Depok
01 Feb 2019